To get the fish that we need for our study, we have to
mate the fish in the following way:
Untuk mendapatkan
ikan yang kita inginkan dalam penelitian kita, kita harus menggabungkan dua
ikan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
In STEP 1, we mate a female Platyfish with a spotted side
pigment pattern to a male Swordtail with no pigment pattern. The little fish
that they have are called offspring. All of their offspring have spotted sides.
Tahap 1, Kita
mengawinkan Platyfish betina yang memiliki spot pada sisi tubuhnya dengan Ikan Swordtail
jantan yang tidak memiliki spot pada sisi tubuhnya.Ikan yang dihasilkan dari perkawinan itu kita
sebut offspring.Semua ikan offspring
yang dihasilkan memiliki spot pada sisi tubuhnya.
In STEP 2, we mate one of the male offspring with a
spotted side pigment pattern to a female Swordtail with no pigment pattern.
Their offspring are the four fish pictured in the diagram at on the bottom of
this page. Two of the fish, the heavy spotted and the light spotted, are the
fish that we study. These fish have a greater chance of getting a melanoma due
to the combination of different genes that they inherit from their parents.
Tahap 2, Kita
mengawinkan offspring jantan dengan spot pada sisi tubuhnyadengan ikan Swordtail betina tanpa spot.Offspring yang mereka hasilkan adalah keempat
gambar ikan pada diagram di bawah ini.Dua dari ikan tersebut memiliki spot yang jelas atau tebal dan memiliki
spot yang tidak tebal, kedua ikan inilah yang kita teliti. Ikan ini memiliki
peluang yang besar mendapatkan melanoma karena perbedaan kombinasi gen yang
mereka warisi dari kedua induk mereka.
Ruang lingkup: Standar
ini digunakan untuk menentukan jumlah total mikroorganisme aerob
pada produk perikanan.
Prinsip: Pertumbuhan mikroorganisme aerob setelah
contoh diinkubasikandalam media agar pada
suhu 22 - 25oC selama 5 hari.
Penentuan jumlah kapang dan khamir dilakukan dengan
cara metode agar tuang (pour plate).
Acuan: SNI 01-2332.7-2009
Kapang:
Morfologi Kapang yang bentuknya hifa biasa dikenal sebagai jamur/mould.
Morfologinya sangat khas yaitu sel yang memanjang dan bercabang, koloninya
kering sehingga bentuknya seperti kapas. Check it out gambar dibawah ini!
Jamur yang
tergolong sebagi kapang diantaranya:
microsporum canis
tricophyton mentagrophytes
aspergilus sp
Khamir:
Morfologi khamir
yang bentuknya berupa ragi biasa dikenal sebagai yeast. Morfologi khas dari
jamur ini adalah bentuknya yang bulat, licin, dan menyerupai bakteri. Look at
this one!!!
Media dan Pereaksi:
·Potato Dextrose Agar (BPA)
·Larutan Butterfield’s
phosphat buffered (BFP)
·Larutan standar
Prosedur :
·Preparasi Contoh
Contoh
yang akan diuji diambil secara acak dan aseptik dengan ketentuan berat sebagai
berikut:
-Contoh dengan berat kurang
dari 1 kg, diambil sebanyak 100 g
-Contoh dengan berat 1kg -
4.5 kg, diambil sebanyak 300 g
-Contoh dengan berat lebih
dari 4.5 kg diambil sebanyak 500 g
·Homogenasi dan Pengenceran
-Timbang contoh secara
aseptik sebanyak 25 g kemudian masukkan ke dalam plastik stomacher
-Tambahkan larutan BFP
sebanyak 225 ml. Homogenat ini merupakan
larutan pengenceran 10-1.
-Dengan menggunakan pipet
steril, ambil 1 ml homogenat diatas dan masukkan ke
dalam 9 ml larutan BFP untuk mendapatkan pengenceran 10-2.
-Siapkan pengenceran
selanjutnya (10-3) dengan mengambil 1 ml contoh dari pengenceran 10-2
ke dalam 9 ml larutan BFP
-Pada setiap pengenceran
dilakukan pengocokan minimal 25 kali.
Selanjutnya lakukan hal yang sama untuk pengenceran 10-4, 10-5
dan seterusnya sesuai kondisi contoh.
·Metode Cawan Agar Tuang
(pour plate method)
-Pipet 1 ml dari setiap
pengenceran 10-1, 10-2, dst dan masukkan ke dalam cawan
petri steril. Lakukan secara duplo untuk
tiap pengenceran.
-Tambahkan 15 ml – 20 ml
PDA yang sudah didinginkan dalam waterbath hingga mencapai suhu (45±1)
oC ke dalam masing-masing cawan yang sudah berisi contoh. Supaya contoh dan media PDA tercampur
sempurna lakukan pemutaran cawan ke depan ke belakang dan ke kiri ke kanan.
-Setelah agar menjadi
padat, untuk penentuan mikroorganisme aerob inkubasi cawan-cawan tersebut dalam
posisi terbalik dalam inkubator pada suhu 22oC – 25oC,
selama 5 hari.
-Lakukan kontrol tanpa
contoh dengan mencampur larutan pengencer dengan media PDA.
·Perhitungan Koloni
1.Hitung cawan yang mengandung jumlah 10 koloni-150 koloni dan catat
pengenceran yang digunakan.
N = ∑ C
[(
1 X n1 ) + ( 0,1 x n2 )] x
( d )
Dengan :
N : Jumlah koloni produk, dinyatakan dalam koloni per ml atau koloni
per g.
∑C : Jumlah koloni pada semua cawan yang dihitung
n1 : Jumlah cawan pada pengenceran pertama yang di
hitung
n2: Jumlah cawan pada pengenceran kedua yang di
hitung
d : Pengenceran pertama yang di hitung.
CONTOH :
Pengenceran: 1:100 1:1000
Jumlah
Koloni: 132 dan 144 23
dan 18
N = ( 132 + 144 + 23 + 18 )
[(
1X2 ) + ( 0,1X2 )] 102
= 317/0,022
=
14.409
=
14.000 koloni per g
1.Hitung cawan yang mengandung jumlah koloni lebih dari 150 koloni dan catat
pengenceran yang digunakan. Bila jumlah
koloni per cawan lebih dari 150 pada seluruh pengenceran maka laporkan hasilnya
sebagai terlalu banyak untuk dihitung (TBUD), tetapi jika salah satu
pengenceran mempunyai jumlah koloni mendekati 150 laporkan sebagai perkiraan
kapang dan khamir
CONTOH:
Pengenceran 1 : 100 1
: 1000
Jumlah koloni TBUD 170
Perkiraan ragi dan kapang koloni per ml atau per g 170.000
2.Hitung cawan yang mengandung jumlah koloni kurang dari 10 koloni atau cawan
tanpa koloni dan catat pengenceran yang digunakan. Bila pada kedua pengenceran yang digunakan
diperoleh koloni kurang dari 10, catat koloni yang ada, nyatakan perhitungan
sebagai kurang dari 10 dan kalikan dengan 1/d, dimana d adalah faktor
pengenceran pertama yang digunakan dan dilaporkan sebagai perkiraan ALT kapang
dan khamir.
CONTOH:
Pengenceran 1
: 100 1 : 1000
Jumalah koloni 8
dan 0 2 dan 0
Perkiraan ALT ragi dan kapang koloni per ml atau per g Lebih kecil dari 1.400
·Pelaporan
-Untuk menghasilkan perhitungan yang akurat dan
teliti, maka laporkan hasilnya dengan dua angka ( digit ) pertama sebagai hail
pembulatan.
-Bulatkan keatas dengan cara menaikkan angka edua
menjadi angka yang lebih tinggi bila angka ketiga adalah 6,7,8 atau 9 dan
gunakan angka 0 untuk masing-masing angka pada digit berikutnya.
-Bulatkan kebawah bila angka ketiga adalah 1,2,3
atau 4. Bila angka ketiga 5, bulatkan keatas bila angka kedua ganjil dan
bulatkan kebawah bila angka kedua itu genap.
CONTOH :
Hasil
Perhitungan ALT
12.700 13.000
12.400 12.000
15.500
16.000
14.500 14.000
• Beri tanda bintang (*) untuk
cawan yang kurang dari 10 koloni.
CONTOH :
Pengenceran :
1:100 1:1000
Jumlah Koloni :
8 dan 0 2 dan 0
Perkiraan
ALT Koloni : Lebih kecil 1.400* per ml atau koloni per g.
Tim analis mikrobiologi telah melakukan uji internal "Kapang dan Khamir" sesuai SNI 2332.7:2009 pada beberapa produk perikanan seperti: Ikan segar, Udang rebus beku, Telur ikan terbang kering, dan Gurita (Octopus) beku. Hal ini dilakukan karena pada kenyataannya, beberapa waktu terakhir ini tidak ada permintaan terhadap pengujian Kapang dan Khamir, padahal sebagai laboratorium yang terakreditasi, kompetensi laboratorium harus selalu terjaga demi profesionalisme laboratorium. Oleh sebab itu pengujian terhadap beberapa produk perikanan harus tetap kami lakukan walaupun tanpa permintaan dari customer.
Kapang adalah mikroba yang memiliki lebih dari satu sel berupa benang benang halus yang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, dan berkembang biak dengan spora.
Khamir adalah mikroba bersel tunggal berbentuk bulat lonjong dan memperbanyak diri dengan cara membentuk tunas (askospora), tetapi tidak membentuk miselum.
Penentuan Staphylococcus aureus Pada Produk Perikanan (SNI 01-2332.9-2011) Dengan Metode Cawan Hitung (Plate Count) - Kuantitatif
1.Prinsip
Metode cawan hitung agar sebar dengan cara menuangkan media Baird Parker Agar (BPA) ke dalam cawan petri steril, biarkan membeku, kemudian contoh sebanyak 1 ml disebar di atas permukaan media. Konfirmasi koloni terduga (suspect) S. aureus dilakukan dengan uji koagulase dan uji tambahan. Metode ini sesuai untuk menganalisa makanan yang diduga mengandung lebih dari 100 koloni S. aureus per gram.
2.Peralatan
-Autoclave
-Inkubator 35oC ±1oC
-Timbangan analitik dengan ketelitian 0.0001 g
-Tabung reaksi
-Cawan petri 15 mm x 90 mm
-Colony Counter
-Stomacher dan plastik stomacher
-Batang gelas bengkok diameter 3 mm–4 mm, dengan panjang tangkai 15 cm–20 cm
-Pipet gelas atau micro pipette 0.1 ml dan 1 ml
-Gelas ukur 250 ml
-Gelas preparat
-Membran apparatus
-Membran filter
-Erlenmeyer 500 ml
-Waterbath
3.Media dan Pereaksi
-Baird Parker Agar (BPA)
-Brain Heart Infusion (BHI) broth
-Purple carbohydrate broth (masing-masing mengandung glucose dan manitol 0.5%)
-Toluidine Blue-DNA Agar
-Coagulase plasma (Rabbit) dengan EDTA
-Parafin oil steril
-Larutan BFP (Butterfield’s Phosphate) buffered
-Pereaksi Katalase (3% H2O2)
-Pereaksi pewarnaan gram
-Trypticase (tryptic) Soy Agar
Metode Pengujian
1.Kondisi Pengujian
Selama melakukan pengujian, terapkan teknik aseptis dan lakukan pengujian di ruangan atau Laminar air flow yang terkontrol. Media BPA dalam petri yang akan digunakan harus dalam keadaan kering. Bila koloni S. aureus belum tumbuh dengan baik setelah 48 jam, inkubasi kembali sampai 72 jam sebelum dilakukan perhitungan.
2.Prosedur
Timbang contoh secara aseptic sebanyak 25 g, kemudian masukkan ke dalam wadah plastik stomacher steril. Tambahkan 225 ml larutan BFP, homogenkan selama 2 menit. Homogenat ini merupakan larutan pengenceran 101. Dengan menggunakan pipet steril, ambil 1 ml homogenate di atas dan masukkan ke dalam 9 ml larutan BFP untuk mendapatkan pengenceran 102. Siapkan pengenceran selanjutnya (103) dengan mengambil 1 ml contoh dari pengenceran 102 ke dalam 9 ml larutan BFP. Pada setiap pengenceran dilakukan pengocokan minimal 25 kali pada alat vortex. Selanjutnya lakukan hal yang sama untuk pengenceran 104, 105…dst. sesuai kondisi contoh.
Sampel Tuna
Homogenat telah di stomacher
Menuang BPA agar ke dalam petri
3.Isolasi Staphylococcus aureus
a. Secara aseptis pindahkan 1 ml dari setiap pengenceran 101, 102,..dst. masukkan dalam 3 cawan petri masing-masing (0.4 ml, 0.3 ml, 0,3 ml) yang sudah berisi media BPA.
b.Ratakan inokulum pada permukaan agar dengan menggunakan batang gelas bengkok dan biarkan inokulum sampai terserap ke dalam media kira-kira 10 menit dalam media BPA kering. Bila inokulum belum terserap, letakkan cawan dalam incubator dengan posisi menghadap ke atas sekitar 1 jam. Balik cawan petri dan inkubasi selama 45 jam – 48 jam pada suhu 35oC ±1oC.
c.Koloni S. aureus pada BPA mempunyai cirri-ciri: koloni bundar, licin/halus, cembung, diameter 2 mm – 3 mm, warna abu-abu hingga kehitaman, sekeliling tepi koloni bening (terbentuk halo). Koloni-koloni mempunyai konsistensi berlemak dan lengket bila diambil dengan jarum inokulasi.
d.Strain yang berasal dari makanan beku atau makanan kering yang sudah lama disimpan, sering memberikan warna yang kurang hitam dibandingkan dengan koloni yang khas Staphylococcus aureus. Selain itu kenampakan koloni juga kasar dan teksturnya kering.
1.Perhitungan Koloni
a. Pilih cawan yang mempunyai jumlah koloni 20-200. Hitung dan catat jumlah koloni
b.Bila terdapat beberapa jenis koloni yang terlihat seperti S. aureus pada cawan petri, hitung masing-masing jenis tersebut dan catat hasil perhitungannya secara terpisah.
c.Jika cawan petri pada pengenceran terendah berisi kurang dari 20 koloni, data koloni dapat digunakan.
d.Bila terdapat cawan yang berisi lebih dari 200 koloni dengan ciri-ciri S. aureus dan pada pengenceran yang lebih tinggi tidak ditemukan koloni, maka gunakan cawan tersebut untuk menghitung S. aureus.
e.Ambil 2 atau lebih koloni terduga untuk uji koagulase dan uji tambahan.
2.Uji Koagulase
a. Inokulasi koloni terduga S. aureus ke dalam 2 ml HBI broth dan inkubasi 18 jam-24 jam pada suhu 35oC ±1oC.
b.Pindahkan 0.2 ml-0.3 ml inokulum tersebut ke dalam tabung steril dan tambahkan 0.5 ml koagulase plasma kemudian aduk. Inkubasi pada suhu 35oC ±1oC. Amati tiap jam untuk 4 jam pertama dan selanjutnya hingga 24 jam untuk melihat terbentuknya koagulan.
c.Koagulan yang terbentuk secara padat/solid dan tidak jatuh apabila tabung dibalik dinyatakan positif (reaksi 4+) Staphylococcus aureus. Koagulan yang menunjukkan reaksi 2+ dan 3 + harus dilakukan uji tambahan. Tipe reaksi uji koagulase dapat dilihat pada Gambar.
Reaksi koagulase 4+
Atas (2+); tengah (3+); bawah (4+)
1.Uji Tambahan
a. Uji katalase
-Ambil 1 ose inokulum dari BHI broth lalu goreskan ke dalam TSA miring dan inkubasi selama 18 jam-24 jam pada suhu 35oC ±1oC
-Setelah diinkubasi, ambil 1 ose inokulum tersebut dan letakkan di atas gelas preparat. Tetesi dengan H2O2 untuk melihat pembentukan gelembung-gelembung gas.
b.Fermentasi Glukosa secara Anaerob
-Ambil 1 ose inokulum dari BHI broth. Inokulasikan ke tabung reaksi yang berisi media karbohidrat mengandung 0.5% glukosa, tutup lapisan atas dengan paraffin oil steril setebal 25 mm.
-Inkubasi selama 5 hari pada suhu 35oC ±1oC. Kondisi asam dihasilkan secara anerob jika terjadi perubahan warna media dari ungu menjadi kuning, ini menunjukkan adanya Staphylococcus aureus.
c.Fermentasi Manitol secara Anaerob
Lakukan hal yang sama seperti fermentasi glukosa secara anaerob. Gunakan manitol sebagai karbohidrat dalam media. Staphylococcus aureus biasanya memberikan hasil positif yang ditunjukkan dengan terjadinya perubahan warna dari ungu ke kuning, tetapi beberapa strain memberikan hasil negatif.
Fermentasi glukosa & manitol
sebelum inkubasi
Fermentasi glukosa & manitol
setelah inkubasi
d.Uji Produksi Nuklease Thermostabil
Uji ini tidak dapat menggantikan uji koagulase tetapi hanya digunakan untuk mendukung pengujian yang memberikan reaksi koagulase 2+. Pada uji ini, terjadi perubahan warna dari biru menjadi merah muda cerah
-Tuang 3 ml toludine blue-DNA agar di atas permukaan gelas preparat. Setelah media agar tersebut membeku, lubangi dengan diameter 2 mm.
-Ambil 0.01 ml kultur BHI broth yang telah dipanaskan dalam waterbath mendidih pada suhu 100oC selama 15 menit.
-Letakkan gelas preparat pada kondisi yang lembab dan inkubasi selama 4 jam pada suhu 35oC ±1oC. Apabila terbentuk lingkaran berwarna merah muda cerah di sekeliling lubang sekurang-kurangnya 1 mm, menunjukkan reaksi positif.
Tabel 1. Karakteristik yang khas dari Staphylococcus aureus, S. epidermis, dan Micrococci
Karakteristik
S. aureus
S. epidermis
Micrococci (a)
1. Uji Katalase
+
+
+
2. Uji Koagulase
+
-
-
3. Uji Produksi Nuklease Thermostabil
+
+
-
4. Fermentasi secara anaerob
- Glukosa
- Manitol
+
+
+
-
-
-
CATATAN: a+, Mayoritas (90% atau lebih) strain adalah positif
-, Mayoritas (90% atau lebih) strain adalah negatif
10.Pelaporan Staphylococcus aureus dengan metode cawan hitung (Plate Count) agar sebar
Dari setiap pengenceran, jumlahkan koloni-koloni pada ketiga cawan Petri yang memberikan hasil koagulase atau uji tambahan positif kemudian kalikan dengan faktor pengencerannya.
Laporkan hasilnya sebagai jumlah Staphylococcus aureus per gram produk.
-Untuk menghasilkan perhitungan yang akurat dan teliti, maka laporkan hasilnya dengan dua angka (digit) pertama sebagai hasil pembulatan.
-Bulatkan ke atas dengan cara menaikkan angka kedua menjadi angka yang lebih tinggi, bila angka ketiga adalah 6, 7, 8 atau 9, maka gunakan angka 0 untuk masing-masing angka pada digit berikutnya.
-Bulatkan ke bawah bila angka ketiga adalah 1, 2, 3 atau 4. Bila angka ketiga 5, bulatkan ke atas bila angka kedua ganjil dan bulatkan ke bawah bila angka kedua itu genap