zwani.com myspace graphic comments

Kamis, 03 Mei 2012

Fishing Trips dan Potensi Tuna Indonesia


Tuna is an important fishing resource in Coral Triangle as it supports the economies of many developing nations and represents the livelihoods of millions of people in this region and beyond.
The region contains spawning and nursery grounds and migratory routes for commercially-valuable tuna species such as bigeye, yellowfin, skipjack and albacore, producing more than 40% of the total catch for the Western Central Pacific region, and representing more than 20% of the global catch.

As of 2007, more than 10,000 trawlers and 22,000 purse seiners have been found in Indonesian waters.

In Indonesia Commercial fishermen use purse seine nets and longlines (up to dozens of miles long) to fish for yellowfins. But their sport fishing value is also high: their speed and fighting ability, their sheer size potential, and their palatability have made them a favorite game fish among saltwater sport anglers. Add that to the fact that they're common, easy to find, and eager to take a hook, and you've got a prime candidate for a fisherman's favorite. Some folks will travel hundreds, nay, thousands of miles to find them. This article will discuss how to catch these tasty monsters of the deep.






Potensi perikanan di Indonesia terdiri dari 11 Wilayah Potensi Perikanan (WPP), yakni Luat Andaman (Selat Malaka), Laut Sumatera bagian Barat, Laut Jawa bagian Selatan, Laut Jawa, Selat Karimata, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Halmahera, Laut Sulawesi, Laut Papua dan Laut Aru.

Sedangkan potensi tuna tersebar pada lokasi perairan Indonesia bagian Timur yang terbagi dua WPP, yakni Laut Halmahera dan Laut Banda.

Faktor penyebab Indonesia bagian Timur memiliki kekuatan potensi tuna yang tinggi karena adanya pertemuan arus di sekitar Samudera Pasifik sehingga aliran dan sanitasi air besar.
Meskipun perairan Indonesia bagian Timur menjadi tempat berkembang biak tuna, namun Indonesia tidak bisa mengklaim tuna merupakan ikan yang berasal dari Indonesia karena ikan laut itu  hidup secara migrasi di sekitar Samudera Pasifik dan Laut China Selatan yang meliputi negara Malaysia, Thailand, Filipina, Timor Leste dan Papua New Ginie.

Selain diuntungkan faktor alam, peningkatan produksi ikan dan nilai ekspor tuna dipengaruhi semakin banyaknya jumlah kapal penangkap ikan dalam maupun luar negeri yang beroperasi di perairan Indonesia.

Prosedur Uji Kapang dan Khamir


Ruang lingkup: Standar ini digunakan untuk menentukan jumlah total mikroorganisme aerob pada produk perikanan.
Prinsip: Pertumbuhan mikroorganisme aerob setelah contoh diinkubasikan dalam media agar pada suhu 22 - 25oC selama 5 hari.  Penentuan jumlah kapang dan khamir dilakukan dengan cara  metode agar tuang (pour plate).
Acuan:   SNI 01-2332.7-2009

Kapang:
Morfologi Kapang yang bentuknya hifa biasa dikenal sebagai jamur/mould. Morfologinya sangat khas yaitu sel yang memanjang dan bercabang, koloninya kering sehingga bentuknya seperti kapas. Check it out gambar dibawah ini!




Jamur yang tergolong sebagi kapang diantaranya:
  1. microsporum canis
  2. tricophyton mentagrophytes
  3. aspergilus sp
Khamir:
Morfologi khamir yang bentuknya berupa ragi biasa dikenal sebagai yeast. Morfologi khas dari jamur ini adalah bentuknya yang bulat, licin, dan menyerupai bakteri. Look at this one!!!



Media dan Pereaksi:
·        Potato Dextrose Agar (BPA)
·        Larutan Butterfield’s phosphat buffered (BFP)
·        Larutan standar

Prosedur              :
·        Preparasi Contoh
Contoh yang akan diuji diambil secara acak dan aseptik dengan ketentuan berat sebagai berikut:
-         Contoh dengan berat kurang dari 1 kg, diambil sebanyak 100 g
-         Contoh dengan berat 1kg - 4.5 kg, diambil sebanyak 300 g
-         Contoh dengan berat lebih dari 4.5 kg diambil sebanyak 500 g

·        Homogenasi dan Pengenceran
-    Timbang contoh secara aseptik sebanyak 25 g kemudian masukkan ke dalam plastik stomacher
-    Tambahkan larutan BFP sebanyak 225 ml.  Homogenat ini merupakan larutan pengenceran 10-1.
-     Dengan menggunakan pipet steril, ambil 1 ml homogenat diatas dan masukkan  ke  dalam 9 ml larutan BFP untuk mendapatkan pengenceran 10-2.
-    Siapkan pengenceran selanjutnya (10-3) dengan mengambil 1 ml contoh dari pengenceran 10-2 ke dalam 9 ml larutan BFP
-    Pada setiap pengenceran dilakukan pengocokan minimal 25 kali.  Selanjutnya lakukan hal yang sama untuk pengenceran 10-4, 10-5 dan seterusnya sesuai kondisi contoh.
·        Metode Cawan Agar Tuang (pour plate method)
-    Pipet 1 ml dari setiap pengenceran 10-1, 10-2, dst dan masukkan ke dalam cawan petri steril.  Lakukan secara duplo untuk tiap pengenceran.
-     Tambahkan 15 ml – 20 ml PDA yang sudah didinginkan dalam waterbath hingga mencapai suhu (45±1) oC ke dalam masing-masing cawan yang sudah berisi contoh.  Supaya contoh dan media PDA tercampur sempurna lakukan pemutaran cawan ke depan ke belakang dan ke kiri ke kanan.
-    Setelah agar menjadi padat, untuk penentuan mikroorganisme aerob inkubasi cawan-cawan tersebut dalam posisi terbalik dalam inkubator pada suhu 22oC – 25oC, selama 5 hari.
-    Lakukan kontrol tanpa contoh dengan mencampur larutan pengencer dengan media PDA.

·        Perhitungan Koloni

1.  Hitung cawan yang mengandung jumlah 10 koloni-150 koloni dan catat pengenceran yang digunakan.
           
               N =                           C                          
                                  [( 1 X n1 ) + ( 0,1 x n2 )] x ( d )

Dengan :
N       :  Jumlah koloni  produk,  dinyatakan dalam koloni  per ml atau koloni
              per g.
C    :  Jumlah koloni pada semua cawan yang dihitung
n1      :  Jumlah cawan pada pengenceran pertama yang di hitung
n2      :  Jumlah cawan pada pengenceran kedua yang di hitung
d       :   Pengenceran pertama yang di hitung.

                  CONTOH :
Pengenceran:         1:100                    1:1000
Jumlah Koloni:     132 dan 144          23 dan 18

N = ( 132 + 144 + 23 + 18 )
 [( 1X2 ) + ( 0,1X2 )] 102
 = 317/0,022
= 14.409
= 14.000 koloni per g

1.     Hitung cawan yang mengandung jumlah koloni lebih dari 150 koloni dan catat pengenceran yang digunakan.  Bila jumlah koloni per cawan lebih dari 150 pada seluruh pengenceran maka laporkan hasilnya sebagai terlalu banyak untuk dihitung (TBUD), tetapi jika salah satu pengenceran mempunyai jumlah koloni mendekati 150 laporkan sebagai perkiraan kapang dan khamir
CONTOH:
Pengenceran         1  :  100           1  :  1000
Jumlah koloni          TBUD                   170
Perkiraan ragi dan kapang koloni per ml atau per g  170.000

2.   Hitung cawan yang mengandung jumlah koloni kurang dari 10 koloni atau cawan tanpa koloni dan catat pengenceran yang digunakan.  Bila pada kedua pengenceran yang digunakan diperoleh koloni kurang dari 10, catat koloni yang ada, nyatakan perhitungan sebagai kurang dari 10 dan kalikan dengan 1/d, dimana d adalah faktor pengenceran pertama yang digunakan dan dilaporkan sebagai perkiraan ALT kapang dan khamir.
CONTOH:
Pengenceran        1 : 100             1 : 1000
Jumalah koloni      8 dan 0             2 dan 0
Perkiraan ALT ragi dan kapang koloni per ml atau per g Lebih kecil dari 1.400

·        Pelaporan
-     Untuk menghasilkan perhitungan yang akurat dan teliti, maka laporkan hasilnya dengan dua angka ( digit ) pertama sebagai hail pembulatan.
-     Bulatkan keatas dengan cara menaikkan angka edua menjadi angka yang lebih tinggi bila angka ketiga adalah 6,7,8 atau 9 dan gunakan angka 0 untuk masing-masing angka pada digit berikutnya.
-    Bulatkan kebawah bila angka ketiga adalah 1,2,3 atau 4. Bila angka ketiga 5, bulatkan keatas bila angka kedua ganjil dan bulatkan kebawah bila angka kedua itu genap.

CONTOH :
   Hasil Perhitungan                         ALT
12.700                                       13.000
12.400                                       12.000
15.500                                       16.000
14.500                                       14.000
• Beri tanda bintang (*) untuk cawan yang kurang dari 10 koloni.
        CONTOH :
   Pengenceran   : 1:100                        1:1000
  Jumlah Koloni   : 8 dan 0                     2 dan 0
                    Perkiraan ALT Koloni : Lebih kecil 1.400*   per ml atau koloni per g.



Senin, 02 April 2012

Koloni Kapang dan Khamir Pada Produk Perikanan

Tim analis mikrobiologi telah melakukan uji internal "Kapang dan Khamir" sesuai SNI 2332.7:2009 pada beberapa produk perikanan seperti: Ikan segar, Udang rebus beku, Telur ikan terbang kering, dan Gurita (Octopus) beku.  Hal ini dilakukan karena pada kenyataannya, beberapa waktu terakhir ini tidak ada permintaan terhadap pengujian Kapang dan Khamir, padahal sebagai laboratorium yang terakreditasi, kompetensi laboratorium harus selalu terjaga demi profesionalisme laboratorium.  Oleh sebab itu pengujian terhadap beberapa produk perikanan harus tetap kami lakukan walaupun tanpa permintaan dari customer.

Kapang adalah  mikroba yang memiliki lebih dari satu sel berupa benang benang halus yang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, dan berkembang biak dengan spora.
Khamir adalah mikroba bersel tunggal berbentuk bulat lonjong dan memperbanyak diri dengan cara membentuk tunas (askospora), tetapi tidak membentuk miselum.









Kamis, 29 Maret 2012

Pelatihan Pengujian Mikrobiologi


Balai Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, dalam hal ini Seksi Pengolahan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan mengadakan kegiatan “Pelatihan Pengujian Mikrobiologi” dilaksankan dari tanggal 23 – 24 Februari 2012 di Hotel Grand Palace Makassar.

Menurut Kepala Seksi  PPMHP ibu Syarifa Sarro, S.Pi, pelatihan ini utamanya ditujukan kepada tenaga analis laboratorium mikrobiologi di Unit Pengolahan Ikan (UPI).  Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan analis laboratorium terhadap pengujian mikrobiologi sehingga tersedia analis pengujian Mikrobiologi yang handal di laboratorium UPI.

Beberapa materi yang disajikan dalam pelatihan ini yaitu “Kebijakan Sistem Manajemen Mutu & Keamanan Pangan” yang disampikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan Bapak Ir.H.Iskandar, “Peran dan Fungsi BPPMHP Sebagai Katup Pengaman Eksport” oleh Kepala BPPMHP Makassar Ibu Siti Zaleha Soebarini, A.Pi.,M.Si., “Mikroorganisme Yang Terdapat Pada Makanan & Bahayanya” oleh narasumber dari Balai POM Sulawesi Selatan, “Prosedur Pengujian Mikrobiologi ALT & Vibrio cholera” oleh Penyelia Mikrobiologi BPPMHP, “Cara Berlaboratorium yang Baik” oleh tim dari PT.Merck, “Media dan Cara Pengujian Formalin” oleh tim dari PT.Merck dan Tim Analis BPPMHP, dan yang terakhir adalah “Praktek Pengujian ALT dan Vibrio cholera” di Laboratorium Mikrobiologi BPPMHP oleh Tim Analis Mikrobiologi BPPMHP.

Beberapa Foto Kegiatan Pelatihan:























(^_^)

Minggu, 05 Februari 2012

Kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan


Pada hari Sabtu tanggal 4 Februari 2012 yang lalu Menteri Kelautan dan Perikanan Bapak Sharif TjitjipSutardjo, melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Selatan.  Kunjungan ini juga diikuti oleh Gubernur Sulawesi Selatan, wakil walikota Makassar, Dirjen Perikanan Budidaya, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan Perikanan, Dinas Perikanan dan kelautan Propinsi Sulawesi Selatan, serta  Dinas  Kabupaten Kota se Sulawesi selatan.  Tak terkecuali Kepala BPPMHP Makassar.  Kunjungan kerja Menteri  Kelautan dan Perikanan ini selain meninjau beberapa proyek pembangunan perikanan di Sulawesi Selatan, penyerahan beberapa paket bantuan, juga kunjungan ke salah satu perusahaan perikanan yang berada di Kawasan Industri Makassar yaitu PT. Multi Sari Makassar.  
Diperusahan perikanan ini Bapak Mentri dan Bapak Gubernur berkesempatan meninjau cold storage dan mendapatkan penjelasan tentang beberapa produk perikanan dan olahan.














(^_^)